PENDEKATAN LESSON STUDY
· Pengertian
Lesson study adalah adalah suatu model pembinaan profesi pendidik melalui pengkajian pembelajaran secara kolaboratif dan berkelanjutan berlandaskan prinsip-prinsip kolegalitas dan belajar bersama (mutual learning) untuk membangun masyarakat belajar (learning community.Dengan demikian, LS bukan metoda atau strategi pembelajaran tetapi kegiatan LS dapat menerapkan berbagai metoda/strategi pembelajaran yang sesuai dengan situasi, kondisi, dan permasalahan yang dihadapi guru. LS dapat dilakukan oleh sejumlah guru dan pakar pembelajaran yang mencakup 3 (tiga) tahap kegiatan, yaitu perencanaan (planning), implementasi (action) pembelajaran dan observasi serta refleksi (reflection) terhadap perencanaan dan implementasi pembelajaran tersebut, dalam rangka meningkatkan kualitas pembelajaran (Lufri, 2007).
· Sejarah
Istilah LS sendiri diciptakan oleh Makoto Yoshida. Praktik ini mempunyai sejarahpanjang, dan secara signifikan telah membantu perbaikan dalam pembelajaran (teaching)dan pemelajaran/proses belajar (learning) siswa dalam kelas, juga dalam pengembangan kurikulum. Banyak guru sekolah dasar dan sekolah menengah di Jepang menyatakan bahwaLS merupakan salah satu pendekatan pengembangan profesi penting yang telah membantu mereka tumbuh berkembang sebagai profesional sepanjang karer mereka (Yoshida 1999 dalam Krisnawan 2010). Di Jepang para guru dapat meningkatkan ketrampilan/kecakapan dalam mengajarnya melalui kegiatan LS, yakni belajar dari suatu pembelajaran. LSmerupakan salah satu bentuk pembinaan guru (in-service) yang dapat dilakukan untuk meningkatkan profesionalisme guru. LS dilakukan diwilayah guru mengajar dengan menggunakan kelas dalam lingkungan nyata, sehingga akan membiasakan guru bekerja secara kolaboratif baik dengan guru bidang studi dan dengan guru diluar bidang studi, bahkan dengan masyarakat. LS merupakan kolaboratif antara guru dalam menyusun rencana pembelajaran beserta research lessonnya, pelaksanaan KBM dikelas yang disertai observasi dan refleksi. Dengan LS para guru dapat leluasa meningkatkan kinerja dan keprofesionalannya yang akhirnya dapat meningkatkan mutu pembelajaran.
LS diperkenalkan di Indonesia melalui kegiatan piloting yang dilaksanakan dalam proyek follow-up IMSTEP-JICA di tiga perguruan tinggi yaitu UPI, UNY, dan UM. Di UM sendiri lessson study diperkenalkan di Malang secara formal oleh JICA expert Eisoke Saito, Ph.D. pada bulan januari 2004, selanjutnya diikuti kegiatan pengimplementasian LS di SMA labotarium Universitas Negeri Malang (I Made Sulandra, 2006 dalam Krisnawan 2010). LSmerupakan hal yang baru bagi sebagian sebagian besar guru. LS diadopsi dari Jepang dan diuji cobakan di beberapa sekolah sebagai pilot project, diantaranya Bandung (dibawah UPI), di Yogyakarta (dibawah UNY), dan di Malang (dibawah UM).
· Ciri-ciri
1. Tujuan bersama untuk jangka panjang. LS didahului adanya kesepakatan dari para guru tentang tujuan bersama yang ingin ditingkatkan dalam kurun waktu jangka panjang dengan cakupan tujuan yang lebih luas, misalnya tentang: pengembangan kemampuan akademik siswa, pengembangan kemampuan individual siswa, pemenuhan kebutuhan belajar siswa, pengembangan pembelajaran yang menyenangkan, mengembangkan kerajinan siswa dalam belajar, dan sebagainya.
2. Materi pelajaran yang penting. LS memfokuskan pada materi atau bahan pelajaran yang dianggap penting dan menjadi titik lemah dalam pembelajaran siswa serta sangat sulit untuk dipelajari siswa.
3. Studi tentang siswa secara cermat. Fokus yang paling utama dari LS adalah pengembangan dan pembelajaran yang dilakukan siswa, misalnya apakah siswa menunjukkan minat dan motivasinya dalam belajar, bagaimana siswa bekerja dalam kelompok kecil, bagaimana siswa melakukan tugas-tugas yang diberikan guru, serta hal-hal lainya yang berkaitan dengan aktivitas, partisipasi, serta kondisi dari setiap siswa dalam mengikuti proses pembelajaran. Dengan demikian, pusat perhatian tidak lagi hanya tertuju pada bagaimana cara guru dalam mengajar sebagaimana lazimnya dalam sebuah supervisi kelas yang dilaksanakan oleh kepala sekolah atau pengawas sekolah.
4. Observasi pembelajaran secara langsung. Observasi langsung boleh dikatakan merupakan jantungnya LS. Untuk menilai kegiatan pengembangan dan pembelajaran yang dilaksanakan siswa tidak cukup dilakukan hanya dengan cara melihat dari Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) atau hanya melihat dari tayangan video, namun juga harus mengamati proses pembelajaran secara langsung. Dengan melakukan pengamatan langsung, data yang diperoleh tentang proses pembelajaran akan jauh lebih akurat dan utuh, bahkan sampai hal-hal yang detail sekali pun dapat digali. Penggunaan videotapeatau rekaman bisa saja digunakan hanya sebatas pelengkap, dan bukan sebagai pengganti.
· Tahap-Tahap Pembelajaran
1. Tahap perencanaan
2. Tahap pelaksanaan
3. Kegiatan refleksi
4. Tahap tindakan
· Kelebihan
1. Peran guru yang dapat berubah-ubah: siapapun dapat berperan sebagai guru pengajar dalam satu waktu dan menjadi guru pengamat di lain waktu. Pergantian peran ini menciptakan rasa saling mengerti serta mendukung di antara guru dan secara efektif meningkatkan mutu proses belajar-mengajar.
2. Metode ini dapat diterapkan di setiap bidang, mulai dari seni, bahasa, sampai matematika dan olahraga pada setiap tingkat kelas.
3. Dapat dilaksanakan antar / lintas kelas
· Kekurangan
1. Belum seragamnya pemahaman tentang lesson study, terjadinya devasiasi dalam memahami kegiatan lesson study tidak jarang menimbulkan perbedaan pendapat, hal ini malahirkan tindakan yang berbeda yang satu membiarkan guru merencanakan sendiri ketika akan implementasi baru melaporkan tindakan kedua dimana dosen secara aktif membimbing calon guru penyaji sampai dalam hal menyiapkan media maupun bahan-bahan pembelajarannya.
2. Perihal kesiapan bekerja sama, muncul saat membuat keputusan siapa yang akan menjadi penyaji pembelajaran yang siap diobservasi. Jarang guru yang mengajukan diri karena masih ada perasaan bahwa sebagai penyaji harus menyiapkan sendiri pembelajaran yang biasa tidak dilakukannya.
3. Koordinasi, secara teoretis keinginan meningkatkan mutu pembelajaran seharusnya ke luar dari niat para guru. Akan tetapi, menginat kesibukan kegiatan sekolah, terkadang niat ini terlupakan. Dengan demikian, kadang saat implementasi observer datang terlambat karena harus mengajar dulu dan banyak alasan lainnya.
4. Ketersediaan sarana dan dukungan finansial, agar kegiatan ini berjalan lancar perlu membuat kesepakatan bersama bahwa biaya kebutuhan guru harus ditanggung sekolah dan kebutuhan pihak dosen ditanggung oleh pihak fakultas.
5. Fasilitas sekolah, apabila seorang guru ingin melakukan suatu pembelajaran yang menuntut eksperimen kelompo, terkadang jumlah alat yang tersedia tidak memadai jumlah siswa dan kondisi bangku diruangan kelas juga tidak mendukung mobilitas dan interaksi siswa.
6. Cara menyampaikan pendapat dalam kegiatan refleksi
NAMA : SITI MARFU'AH
NIM : 1431078
PRODI : MATEMATIKA 2014-C
KAMPUS : STKIP PGRI SIDOARJO
MATA KULIAH : INOVATIF 2
DOSEN PEMBIMBING : LESTARININGSIH, S.Pd., M.Pd.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar