A. PENGERTIAN METODE QUANTUM
Quantum Learning (QL) merupakan metode pembelajaran yang bertumpu dan
metode Freire dan Lazanov. QL mengutamakan percepatan belajar dengan cara
parsitipatori peerta didik dalam melihat potensi diri dalam kondisi penguasaan
din. Gaya belajar dengan mengacu pada otak kanan dan otak kin menjadi ciri khas
QL. Menurut QL bahwa proses belajar mengajar adalah fenomena yang kompleks.
Segala sesuatunya dapat berarti—setiap kata, pikiran, tindakan, dan
asosiasi—sampai sejauh mana fasilitator mengubah belajar berlangsung. Hubungan
dinamis dalam lingkungan kelas merupakan landasan dan kerangka untuk belajar
(DePorter, 1999:2001). Dengan begitu pembelajar dapat mememori, membaca,
menulis, dan membuat peta pikiran dengan cepat.
Dalam QL, yang dipentingkan adalah pemercepatan belajar, fasilitasi, dan
konteks dengan prinsip segalanya berbicara, segalanya bertujuan, pengalaman
sebelum menemukan, akui setiap usaha pembeiajar, dan jika layak dipelajari
berarti layak untuk dirayakan. QL mengutamakan konteks dan isi. Konteks berisi
tentang: (1) suasana yang memberdayakan, (2) landasan yang kukuh, (3)
lingkungan yang mendukung, rancangan belajar yang dinamis. Kemudian isi terdiri
atas (1) penyajian yang prima, (2) fasilitas yang luwes, (3) keterampilan
belajara untuk belajar, dan keterampilan hidup.
Metode kuantum mencakup petunjuk spesifik untuk menciptakan lingkungan
belajar yang efektif, merancang kurikulum, menyampaikan isi, dan memudahkan
proses belajar. Metode kuantum adalah pengubahan bermacam-macam interaksi yang
ada di dalam dan di sekitar momen belajar dengan menyingkirkan hambatan yang
menghalangi proses belajar alamiah dengan secara sengaja menggunakan musik,
mewarnai lingkungan sekeliling, menyusun bahan pengajaran yang sesuai, cara
efektif pembelajaran, dan keterlibatan aktif peserta didik dan pelatih. Asas
yang digunakan adalah Bawalah dunia mereka ke dunia kita dan antarkan dunia
kita ke dunia mereka.
Ada lima prinsip yang mempengaruhi seluruh aspek metode kuantum. Prinsip
tersebut adalah (1) segalanya berbicara, (2) segalanya bertujuan, (3)
pengalaman sebelum pemberian nama, (4) akui setiap usaha, (5) jika layak
dipelajari, layak pula dirayakan. Konteks dan isi sangan mendomunasi dalam
pelaksanaan pembelajaran kuantum. Konteks adalah latar untuk pengalaman
pembelajaran. Konteks dianggap sebagai suasana yang mampu memberdayakan,
landasan yang kukuh, lingkungan yang mendukung, dan rancangan belajar yang
dinamis. Sedangkan isi berkaitan dengan penyajian yang prima, fasilitas yang
luwes, keterampilan belajar untuk belajar, dan keterampilan hidup.
Oleh metode kuantum, peserta didik dianggap sebagai pusat keberhasilan
belajar. Saran-saran yang dikemukakan dalam membangun hubungan dengan peserta
didik adalah: (1) perlakukan peserta didik sebagai manusia sederajat; (2)
ketahuilah apa yang disukai, cara pikir mereka, dan perasaan mereka; (3)
bayangkan apa yang mereka katakana kepada diri sendiri dan mengenai diri
sendiri; (4) ketahuilah apa yang menghambat mereka untuk memperoleh hal yang
benar-benar mereka inginkan jika pelatih tidak tahu tanyakanlah ke peserta
didik; (5) berbicaralah dan jujur kepada mereka dengan cara yang membuat mereka
mendengarkannya dengan jelas dan halus; dan (6) bersenang senanglah bersama
mereka.
Ada hal-hal yang perlu dicermati apabila Quantum Teaching akan
diterapkan dalam pembelajaran, di antaranya:
(1) Asas
Utama
Quantum Teaching mendasarkan diri pada konsep ‘Bawalah dunia mereka ke
dunia kita dan antarkan dunia kita ke dunia mereka’. Maksudnya seorang guru
wajib memasuki dunia siswa sehingga diharapkan siswa mampu membawa hal hal yang
mereka pelajari ke dalam dunianya (DePorter, dkk. 2000:6).
(2)
Prinsip-prinsipnya
Ada lima prinsip atau kebenaran yang tetap pada Quantum Teaching,
yaitu (a) segalanya berbicara, (b) segalanya bertujuan, (c) pengalaman sebelum
pemberian nama, (d) akui setiap usaha, dan (e) jika layak dipelajari, maka
layak pula dirayakan (DePorter, dkk. 2000:7-8).
(3)
Kerangka Rancangan
Quantum
Teaching menggunakan kerangka rancangan ‘TANDUR’, yaitu (a) tumbuhkan, (b) alami,
(c) namai, (d) demonstrasikan, (e) ulangi, dan (f) rayakan.
- Tumbuhkan: Tumbuhkan minat, motivasi, empati, simpati dan harga diri dengan memuaskan “Apakah Manfaat Bagiku” (AMBAK), dan manfaatkan kehidupan siswa.
- Alami: Hadirkan pengalaman umum yang dapat di mengerti dan dipahami semua pelajar.
- Namai: Sediakan kata kunci, konsep,model, rumus, strategi sebuah masukan.
- Demonstrasikan: Sediakan kesempatan bagi siswa untuk menunjukkan bahwa mereka tahu dan ingat setiap siswa memiliki cara yang berbeda dalam menyelesaikan pekerjaan.
- Ulangi: Tunjukkan siswa cara-cara mengulang materi dan menegaskan “Aku tahu dan memang tahu ini”. Sekaligus berikan kesimpulan.
- Rayakan: Pengakuan untuk penyelesaian, partisipasi, dan pemerolehan ketrampilan dan ilmu pengetahuan
Guru dalam Quantum Teaching memegang peranan penting, yaitu sebagai
model, pembimbing, dan fasilitator. Sebagai model guru dituntut memiliki
kemampuan berkomunikasi, mampu mempresentasikan sesuatu, secara efektif, dan
memiliki sikap positif untuk dirinya dan untuk siswanya. Sebagai pembimbing dan
fasilitator, guru dituntut kesadarannya untuk secara optimal mengarahkan siswa
untuk selalu aktif dalam pembelajaran yang dilakukan, karena orientasi
pembelajaran kepada siswa (student centered instruction), bukan kepada
guru (teacher centered instruction).
B.
LATAR BELAKANG KEMUNCULAN (SEJARAH)
Tokoh utama di balik pembelajaran kuantum adalah Bobbi DePorter, seorang
ibu rumah tangga yang kemudian terjun di bidang bisnis properti dan keuangan,
dan setelah semua bisnisnya bangkrut akhirnya menggeluti bidang pembelajaran.
Dialah perintis, pencetus, dan pengembang utama pembelajaran kuantum. Semenjak
tahun 1982 DePorter mematangkan dan mengembangkan gagasan pembelajaran kuantum
di SuperCamp, sebuah lembaga pembelajaran yang terletak Kirkwood Meadows,
Negara Bagian California, Amerika Serikat. SuperCamp sendiri didirikan atau
dilahirkan oleh Learning Forum, sebuah perusahahan yang memusatkan perhatian
pada hal-ihwal pembelajaran guna pengembangan potensi diri manusia. Pada tahap
awal perkembangannya, pembelajaran kuantum terutama dimaksudkan untuk membantu
meningkatkan keberhasilan hidup dan karier para remaja di rumah atau
ruang-ruang rumah; tidak dimaksudkan sebagai metode dan strategi pembelajaran
untuk mencapai keberhasilan lebih tinggi di sekolah atau ruang-ruang kelas.
Demikianlah, metode pembelajaran kuantum merambah berbagai tempat dan bidang
kegiatan manusia, mulai lingkungan pengasuhan di rumah (parenting), lingkungan
bisnis, lingkungan perusahaan, sampai dengan lingkungan kelas (sekolah). Hal
ini menunjukkan bahwa sebenarnya pembelajaran kuantum merupakan falsafah dan
metodologi pembelajaran yang bersifat umum, tidak secara khusus diperuntukkan
bagi pengajaran di sekolah.
Pandangan-pandangan umum dan prinsip-prinsip dasar yang termuat dalam buku Quantum Learning selanjutnya diterapkan, dipraktikkan, dan atau diimplementasikan dalam lingkungan bisnis dan kelas (sekolah).
Pandangan-pandangan umum dan prinsip-prinsip dasar yang termuat dalam buku Quantum Learning selanjutnya diterapkan, dipraktikkan, dan atau diimplementasikan dalam lingkungan bisnis dan kelas (sekolah).
C.
KARAKTERISTIK
Secara umum, Quantum Teaching (pembelajaran kuantum) mempunyai
karakteristik sebagai berikut:
- Berpangkal pada psikologi kognitif.
- Bersifat humanistik, manusia selaku pembelajar menjadi pusat perhatian. Potensi diri, kemampuan pikiran, daya motivasi dan sebagainya dari pembelajar dapat berkembang secara optimal dengan meniadakan hukuman dan hadiah karena semua usaha yang dilakukan pembelajar dihargai. Kesalahan sebagai manusiawi.
- Bersifat konstruktivistis, artinya memadukan, menyinergikan, dan mengolaborasikan faktor potensi diri manusia selaku pembelajar dengan lingkungan (fisik dan mental) sebagai konteks pembelajaran. Oleh karena itu, baik lingkungan maupun kemampuan pikiran atau potensi diri manusia harus diperlakukan sama dan memperoleh stimulant yang seimbang agar pembelajaran berhasil baik.
- Memusatkan perhatian pada interaksi yang bermutu dan bermakna. Dalam proses pembelajaran dipandang sebagai penciptaan intekasi-interaksi bermutu dan bermakna yang dapat mengubah energi kemampuan pikiran yang dapat mengubah energi kemampuan pikiran dan bakat alamiah pembelajar menjadi cahaya yang bermanfaat bagi keberhasilan pembelajar.
- Menekankan pada pemercepatan pembelajaran dengan taraf keberhasilan tinggi. Dalam prosesnya menyingkirkan hambatan dan halangan sehingga menimbulkan hal-hal yang seperti: suasana yang menyengkan, lingkungan yang nyaman, penataan tempat duduk yang rileks, dan lain-lain.
- Menekankan kealamiahan dan kewajaran proses pembelajaran. Dengan kealamiahan dan kewajaran menimbulkan suasana nyaman, segar sehat, rileks, santai, dan menyenangkan serta tidak membosankan.
- Menekankan kebermaknaan dan dan kebermutuan proses pembelajaran. Dengan kebermaknaan dan kebermutuan akan menghadirkan pengalaman yang dapat dimengerti dan berarti bagi pembelajar, terutama pengalaman perlu diakomodasi secara memadai.
- Memiliki model yang memadukan konteks dan isi pembelajaran. Konteks pembelajaran meliputi suasana yang memberdayakan, landasan yang kukuh, lingkungan yang mendukung, dan rancangan yang dinamis. Sedangkan isi pembelajaran meliputi: penyajian yang prima, pemfasilitasan yang fleksibel, keterampilan belajar untuk belajar dan keterampilan hidup.
- Menyeimbangkan keterampilan akademis, keterampilan hidup dan prestasi material.
- Menanamkan nilai dan keyakinan yang positif dalam diri pembelajar. Ini mengandung arti bahwa suatu kesalahan tidak dianggapnya suatu kegagalan atau akhir dari segalanya. Dalam proses pembelajarannya dikembangkan nilai dan keyakinan bahwa hukuman dan hadiah tidak diperlukan karena setiap usaha harus diakui dan dihargai.
- Mengutamakan keberagaman dan kebebasan sebagai kunci interaksi. Dalam prosesnya adanya pengakuan keragaman gaya belajar siswa dan pembelajar.
- Mengintegrasikan totalitas tubuh dan pikiran dalam proses pembelajaran, sehinga pembelajaran bias berlangsung nyaman dan hasilnya lebih optimal.
D. Prinsip
Dasar
Prinsip
dasar yang terdapat dalam pembelajaran Quantum adalah:
1.
Bawalah dunia mereka (siswa) ke dalam dunia kita
(guru), dan antarkan dunia kita (guru ke dalam dunia mereka (siswa).
2.
Proses pembelajaran bagaikan orkestra simfoni, yang
secara spesifik dapat dijabarkan sebagai berikut:
a)
Segalanya dari lingkungan. Hal ini mengandung arti
baik lingkungan kelas/sekolah sampai bahasa tubuh guru; dari lembar kerja atau
kertas kerja yang dibagikan anak sampa rencana pelakanaan pembelajaran,
semuanya mencerminkan pembelajaran.
b)
Segalanya bertujuan. Semua yang terjadi dalam proses
pembelajaran mempunyai tujuan semuanya.
c)
Pengalaman mendahului pemberian nama. Pembelajaran
yang baik adalah jika siswa telah memperoleh informasi terlebih dahulu apa yang
akan dipelajari sebelum memperoleh nama untuk apa yang mereka pelajari. Ini
diilhami bahwa otak akan berkembang pesat jika adanya rangsangan yang kompleks
selanjunya akan menggerakkan rasa keingintahuan.
d)
Akuilah setiap usaha. Dalam proses pembelajaran siswa
seharusnya dihargai dan diakui setiap usahanya walaupun salah, karena belajar
diartikan sebagai usaha yang mengandung resiko untuk keluar dari kenyamanan
untuk membongkar pengetahuan sebelumnya.
e)
Jika layak dipelajari, maka layak pula dirayakan.
Segala sesuatu yang telah dipelajari oleh siswa sudah pasti layak pula
dirayakan keberhasilannya.
3.
Pembelajaran harus berdampak bagi terbentuknya
keunggulan. Ada depalapan kunci keunggulan dalam pembelajaran Quantum yaitu:
a)
terapkan hidup dalam integritas, dalam pembelajaran
sebagai bersikap apa adanya, tulus, dan menyeluruh, sehingga akan meningkatkan motivasi
belajar.
b)
akuilah kegagalan dapat membawa kesuksesan. Jika
mengalami kegagalan janganlah membuat cemas terus menerus tetapi memberikan
informasi kepada kita untuk belajar lebih lanjut.
c)
berbicaralah dengan niat baik. Dalam pembelajaran
hendaknya dikembangkan keterampilan berbicara dalam arti positif dan
bertanggung jawab atas komunikasi yang jujur dan langsung. Dengan niat bicara
yang baik akan mendorong rasa percaya diri dan motivasi.
d)
tegaslah komitmen. Dalam pembelajaran baik guru maupun
siswa harus mengikuti visi-misi tanpa ragu-ragu.
e)
jadilah pemilik, mengandung arti bahwa siswa dan guru
memiliki rasa tanggung jawab sehingga terjadi pembelajaran yang bermakna dan
bermutu.
f)
tetaplah lentur. Seorang guru terutama harus
pandai-pandai mengubah lingkungan dan suasana bilamana diperlukan.
g)
Pertahankan keseimbangan. Dalam pembelajaran,
pertahankan jiwa, tubuh, emosi dan semangat dalam satu kesatuan dan kesejajaran
agar proses dan hasil pembelajaran efektif dan optimal.
E. KELEBIHAN DAN KEKURANGAN METODE QUANTUM
1.
Kelebihan
a.
Pembelajaran Quantum berpangkal pada psikologi
kognitif, bukan fisika kuantum meskipun serba sedikit istilah dan konsep
kuantum dipakai.
b.
Pembelajaran Quantum lebih bersifat humanistis, bukan positivistis-empiris,
“hewan-istis”, dan atau nativistis.
c.
Pembelajaran Quantum lebih konstruktivis(tis), bukan positivistis-empiris, behavioristis.
d.
Pembelajaran Quantum memusatkan perhatian pada interaksi yang bermutu dan bermakna, bukan
sekedar transaksi makna.
e.
Pembelajaran Quantum sangat menekankan pada pemercepatan pembelajaran dengan taraf
keberhasilan tinggi.
f.
Pembelajaran Quantum sangat menentukan kealamiahan dan kewajaran proses pembelajaran,
bukan keartifisialan atau keadaan yang dibuat-buat.
g.
Pembelajaran Quantum sangat menekankan kebermaknaan dan kebermutuan proses pembelajaran.
h.
Pembelajaran Quantum memiliki model yang memadukan konteks dan isi pembelajaran.
i.
Pembelajaran Quantum memusatkan perhatian pada pembentukan keterampilan akademis,
keterampilan (dalam) hidup, dan prestasi fisikal atau material.
j.
Pembelajaran Quantum menempatkan nilai dan keyakinan sebagai bagian penting proses
pembelajaran.
k.
Pembelajaran Quantum mengutamakan keberagaman dan
kebebasan, bukan keseragaman dan ketertiban.
l.
Pembelajaran Quantum mengintegrasikan totalitas tubuh dan pikiran dalam proses
pembelajaran.
2.
Kelemahan
a.
Membutuhkan pengalaman yang nyata
b. Waktu yang cukup lama untuk menumbuhkan motivasi dalam belajar
c. Kesulitan
mengidentifikasi keterampilan siswa
F.
APLIKASI DALAM PEMBELAJARAN
MATEMATIKA
No
|
Rancangan Pembelajaran
Dalam Quantum Learning
|
Aplikasinya
Dalam
Matematika
|
1
|
TANDUR
|
Misalnya pada materi pengukuran, berikan kesempatan
kepada siswa untuk memikirkan apa saja pengalaman mereka tentang pengukuran
tanpa memberitahu terlebih dahulu tentang pengukuran. Carilah sebuah kata
kunci yang berhubungan dengan pengukuran kemudian mintalah siswa sendiri yang
menamainya. Setelah semua itu dipahami, demonstasikan/paparkan konsep-konsep
pengukuran berdasarkan pengalaman mereka. Terus ulangi hingga siswa benar-benar
mengerti. Jika siswa telah benar-benar memahami rayakanlah hal itu.
|
2
|
SLIM-N-BIL
|
S : Permainan menebak gambar ( Mis, Puzzle Segitiga)
L : Permainan mencari kata ( dapat digunakan dalam
Statistika, Misalnya untuk membedakan populasi dan Sampel)
I : Diskusi Kelompok
M : Matematika dapat dihadirkan dalam bentuk lagu
N : Kegiatan dialam (Misalnya dapat melihat
lingkaran tahun pada pohon sebagai pengantar untuk belajar tentang lingkaran.
B : Tarian atau kegiatan atletik ( konsep kubus
dapat disajikan dalam tarian “Lompat Kotak” )
I : Refleksi ( Misalnya persegi memiliki sisi yang
sama panjang. Refleksikan dalam diri siswa apakah seluruh sisi kehidupan
mereka sudah seimbang, entah itu kehidupan dengan sesama maupun dengan Sang
Pencipta)
L : Matematika dapat di hadirkan dalam bentuk
teka-teki sehingga menolong siswa untuk berpikir kritis dan logis
|
3
|
Metafora, Perumpamaan dan Sugesti
|
Matematika dapat disajikan dalam bentuk cerita lucu,
cerita dramatis yang diperankan oleh siswa sendiri. Soal matematika juga
dapat disulap dalam bentuk sebuah perumpamaan.
|
Tidak ada komentar:
Posting Komentar